Rabu, 17 April 2013

Konsep Ketuhanan dalam Islam




Bab I
Pendahuluan


A. Latar Belakang

Beriman bahwa Tuhan itu adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata. Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka. Banyak pakar yang memperdebatkan masalah bukti adanya Tuhan, banyak bahkan yang mengkaji ulang perihal masalah yang satu ini, ilmu sekarang betul-betul telah berkembang dan digunakan untuk menafsir, memperkirakan bahkan memberi kejelasan tentang bukti adanya Tuhan. Di sini akan dikemukakan dalil-dalil yang menyatakan wujud (adanya) Allah swt, untuk memberikan pengertian secara rasional. Tak hanya itu, konsep tentang tauhid dan pengertiannya juga akan dibahas agar tak hanya sekedar percaya saja tapi juga mentauhidkan Tuhan.

B. Permasalahan
 1. Bagaimanakah hakikat Tuhan itu?
2. Bagaimanakah pembuktian adanya Tuhan?
3. Bagaimanakah konsep dari tauhid?
4. Apakah pengertian tauhid?

C. Tujuan
1. Memberikan penjelasan tentang hakikat Tuhan
2. Memberikan pembuktian tentang adanya Tuhan
3. Memberikan penjelasan tentang konsep tauhid
4. Memberikan pengertian tentang tauhid


Bab II
Pembahasan

2.1. Hakikat Tuhan
Dalam upaya kita mengetahui hakikat keberadaan Tuhan, yang harus kita ketahui bukanlah apa yang seyogyanya merupakan benda semata, akan tetapi apa yang sesungguhnya ada. Tuhan itu Maha Ada. Dia ada dari diri-Nya sendiri, Self Existent. Tuhan tidak bergantung pada sesuatu yang lain demi menjadi Tuhan. Sementara kita berada karena Tuhan telah menciptakan kita. Tuhan berada karena Ia ada. Tuhan bersifat abadi, tanpa awal dan akhir. Tuhan selalu berada di mana-mana. Kemanapun dan dimanapun kita berada, Tuhan akan selalu menyertai kita. Tiada sedikit pun ruang tanpa kehadiran-Nya. Kita juga tidak perlu mencari dimana Dia berada, yang diperlukan hanyalah kesadaran kita akan hakikat keberadaan-Nya dan bukti-bukti Kekuasaan-Nya.
Menurut para agamawan, apabila kita masih belum juga menyadari kehadiran-Nya, mungkin mata hati kita yang masih tertutup, sehingga kita tidak menyadari kehadiran-Nya. Padahal Tuhan itu sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari pada urat leher kita! Dengan demikian, tanpa melihat dzat-Nya yang Maha Agung, kita telah dapat mengungkap hakikat keberadaan-Nya melalui segala ciptaan-Nya yang ada, tidak terkecuali pada diri kita sendiri. Begitu banyak hal yang dapat kita jadikan bukti akan hakikat keberadaan-Nya. Apa yang ada pada diri kita sendiri dan semua yang ada di alam semesta ini, tanpa kecuali, dapat dijadikan bukti akan hakikat keberadaan-Nya.
Tuhan telah memberikan bekal kepada manusia berupa akal, dan dengan akal itu manusia dapat memikirkan segala hal yang ada di dalam kehidupannya, sampai akhirnya dia dapat mengetahui tentang hakikat adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya? Kemudian Tuhan melengkapinya dengan menurunkan wahyu-wahyu-Nya kepada beberapa manusia pilihan-Nya (rasul), untuk kemudian disampaikan kepada umat manusia lainnya sebagai petunjuk jalan yang benar. Jadi melalui keduanya, baik akal maupun agama, kita akan dapat mengetahui hakikat keberadaan-Nya.
Seorang filsuf, Al-Ghazali, juga telah mengemukakan hubungan saling keterkaitan antara agama dan akal. Menurutnya, agama dan akal bagaikan cahaya dan mata. Cahaya tak akan banyak berguna bila dilihat dengan mata tertutup, sebaliknya mata akan tertipu dan tak berdaya bila melihat tanpa cahaya. Jadi, Tuhan memberikan akal agar manusia dapat memahami agama dengan benar dan menghadirkan agama sebagai petunjuk jalan yang benar bagi manusia dalam menggunakan akalnya.
Oleh karena itu, bagi kita yang telah percaya akan keberadaan-Nya sebagai Sang Pencipta alam semesta yang maha luas ini, maka tidaklah cukup bagi kita dengan hanya percaya bahwa Tuhan itu sesungguhnya memang ada. Akan tetapi kita juga meyakini-Nya sebagai satu-satunya yang dapat dipertuhankan, serta tidak memandang adanya kualitas serupa kepada sesuatu apapun yang lain. Atas segala nikmat dan anugerah-Nya pula, sudah sepantasnya kita bersyukur, berserah diri, dan melaksanakan segala perintah-Nya dengan penuh cinta dan keikhlasan hanya kepada-Nya. Kita pun wajib menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh ketaatan.

Kita menyembah-Nya bukan karena mengharapkan pahala seperti para pedagang yang selalu melakukan sesuatu atas dasar untung-rugi. Kita menjauhi segala larangan-Nya, juga bukan karena rasa takut akan neraka seperti para budak yang melakukan sesuatu agar tidak dimarahi majikannya, akan tetapi kita melakukannya semata-mata karena rasa syukur dan cinta kita kepada-Nya

2.2. Pembuktian Adanya Tuhan
. Adanya Tuhan atau Allah Swt adalah sesuatu yang bersifat aksiomatik (sesuatu yang kebenarannya telah diakui). Pembuktian adanya Allah untuk mengimani Wujud Allah Swt telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’, dan indera adalah sebagai berikut:
1. Dalil Fitrah
Manusia diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga kadangkala disadari atau tidak, disertai belajar ataupun tidak naluri berketuhanannya itu akan bangkit. Firman Allah:









Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. Al-A’raf:172)


Artinya:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?”. (QS. Az-Zukhruf:87)

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (HR. Al Bukhari)

Ayat dan hadis tersebut menjelaskan kondisi fitrah manusia yang bertuhan. Ketuhanan ini bisa difahami sebagai ketuhanan Islam, karena pengakuannya bahwa Allah swt adalah Tuhan. Selain itu adanya pernyataan kedua orang tua yang menjadikannya sebagai Nasrani, Yahudi atau Majusi, tanpa menunjukkan kata menjadikan Islam terkandung maksud bahwa menjadi Islam adalah tuntutan fitrah. Dari sini bisa disimpulkan bahwa secara fitrah, tidak ada manusia yang menolak adanya Allah sebagai Tuhan yang hakiki, hanya kadang-kadang faktor luar bisa membelokkan dari Tuhan yang hakiki menjadi tuhan-tuhan lain yang menyimpang.

2. Dalil Akal
Akal yang digunakan untuk merenungkan keadaan diri manusia, alam semesta dia dapat membuktikan adanya Tuhan. Di antara langkah yang bisa ditempuh untuk membuktikan adanya Tuhan melalui akal adalah dengan beberapa teori, antara lain:
a. Teori Sebab
Segala sesuatu pasti ada sebab yang melatarbelakanginya. Adanya sesuatu pasti ada yang mengadakan, dan adanya perubahan pasti ada yang mengubahnya. Mustahil sesuatu ada dengan sendirinya. Mustahil pula sesuatu ada dari ketiadaan. Pemikiran tentang sebab ini akan berakhir dengan teori sebab yang utama (causa prima), dia adalah Tuhan.

b. Teori Keteraturan.
Alam semesta dengan seluruh isinya, termasuk matahari, bumi, bulan dan bintang-bintang bergerak dengan sangat teratur. Keteraturan ini mustahil berjalan dengan sendirinya, tanpa ada yang mengatur. Siapakah yang mempu mengatur alam semesta ini selain dari Tuhan?

c. Teori Kemungkinan (Problabyitas)
Adakah kemungkinan sebuah komputer ditinggalkan oleh pemiliknya dalam keadaan menyala. Tiba-tiba datang dua ekor tikus bermain-main di atas tuts keyboard, dan setelah beberapa saat di monitor muncul bait-bait puisi yang indah dan penuh makna?
Dalam pelajaran matematika, bila sebuah dadu dilempar kemungkinan muncul angka 6 adalah 1/6. Dan bila dua dadu dilempar kemungkinan munculnya angka 5 dan 5 adalah 1/36. Bila ada satu set huruf dari a sampai z diambil secara acak, kemungkinan muncul huruf a adalah 1/26. Bila ada lima set huruf diambil secara acak, kemungkinan terbentuknya sebuah kata T-U-H-A-N adalah 1/265 (satu per duapuluh enam pangkat lima) =1/11881376. Andaikata puisi di layar komputer itu terdiri dari 100 huruf saja, maka kemungkinannya adalah 1/26100. Dengan angka kemungkinan sedemikian orang akan menyatakan tidak mungkin, lalu bagaimanakah alam raya yang terdiri dari sekian jenis atom, sekian banyak unsur, sekian banyak benda, berapa kemungkinan dunia ini terjadi secara kebetulan? Kemungkinannya adalah 1/~ (satu per tak terhingga), atau dengan kata lain tidak mungkin. Jika alam ini tidak mungkin terjadi dengan kebetulan maka tentunya alam ini ada yang menciptakannya, yaitu Allah.

3. Dalil Naqli
Meskipun secara fitrah dan akal manusia telah mampu menangkap adanya Tuhan, namun manusia tetap membutuhkan informasi dari Allah swt untuk mengenal dzat-Nya. Sebab akal dan fitrah tidak bisa menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya.
Allah menjelaskan tentang jati diri-Nya di dalam Al-Qur’an:







Artinya:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf:54)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt adalah pencipta semesta alam dan seisinya, dan Dia pulalah yang mengaturnya.

4. Dalil Inderawi
Bukti inderawi tentang wujud Allah swt dapat dijelaskan melalui dua fenomena:
a. Fenomena Pengabulan do’a
Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta memohon pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah Swt. Allah berfirman:




Artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (QS. Al Anbiya:76)




Artunya:
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al Anfaal:9)
Anas bin Malik Ra berkata, “Pernah ada seorang badui datang pada hari Jum’at. Pada waktu itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata’ “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengatasi kesulitan kami.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tanganya dan berdoa. Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada Jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata, “Hai Rasul Allah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdoa: “Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami.” Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan).” (HR. Al Bukhari).
b. Fenomena Mukjizat
Kadang-kadang para nabi diutus dengan disertai tanda-tanda adanya Allah secara inderawi yang disebut mukjizat. Mukjizat ini dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud Yang Mengurus para nabi tersebut, yaitu Allah swt. Karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia, Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para rasul. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa as. Agar memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulkannya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung.
Allah berfirman:




Artinya:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.: Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’araa:63)

2.3. Konsep Tauhid
Sekedar percaya akan wujudnya Tuhan belumlah cukup untuk menjadikan seseorang Islam, karena kepercayaan akan wujud Tuhan bukan merupakan suatu prestasi. Lagi pula, kepercayaan ini sudah ada dengan sendirinya tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun, kadang-kadang kepercayaan ini seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan, namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, di dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong berani mengatakan: "tidak ada Tuhan", namun dalam keadaan yang kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan topan orang ini dengan khusyu'nya lantas berdo'a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Watak manusia seperti ini pun digambarkan di dalam Al-Quran di dalam beberapa surat, misalnya:















Artinya:
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur."
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, Kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu kami kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” ( QS. Yunus:22-23 )
Bahkan di dalam ayat-ayat yang lain al-Quran menyatakan dengan lebih tegas, bahwa manusia itu dengan sendirinya memang sudah mcngakui akan wujud dan kekuasaan Allah SWT, misalnya:




Artinya:
“ Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al ‘Ankabut:61)
Maka watak pengabdi atau penyembah itu sudah inherent dengan setiap diri manusia. Hanyalah pengungkapannya yang mungkin berbeda di antara manusia yang satu dengan yang lain, tergantung kepada tingkat kwalitas pribadi manusia itu masing-masing. Manusia yang canggih (sophisticated) tentu pengungkapannya canggih pula. Yang aneh dan terasa lucu sekali ialah kalau manusia terpelajar yang canggih lagi modern mempunyai cara pengungkapan pengabdian kepada Tuhan yang primitive, konon pula bila diiringi atau berdasarkan kepercayaan yang tidak masuk 'akal, seperti klenik dan tahayul. Sayangnya, manusia-manusia seperti ini masih banyak sekali di zaman yang dikatakan modern ini. Ini, antara lain, disebabkan oleh kurang mampunya ummat Islam menerangkan nilai-nilai Islam kepada dunia. Ditambah pula oleh karena pemahaman dan penghayatan tauhid di kalangan umat Islam sendiri masih belum sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, mentauhidkan Allah jauh lebih sukar dari sekadar mempercayai akan wujud Allah. Mentauhidkan Allah membutuhkan suatu perjuangan berat, dan kemampuan menghayati sikap bertauhid secara tetap (consistent) merupakan suatu prestasi yang paling mulia, karena itu pula pantas mendapat ganjaran yang paling tinggi. Mentauhidkan Allah pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia di dalam menjalani hidupnya di dunia ini, baik secara pribadi maupun demi kebahagiaan hidup manusia di dalam hubungannya dengan manusia yang lain.

2.4. Pengertian Tauhid
Secara bahasa, tauhid berasal dari kata وَحَّدَ يُوَحِّدُ تَوْحِيْدًا artinya mengesakan, Secara istilah tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk untuk beribadah menyembah hanya kepadaNya dan tidak menyekutukanNya. Oleh karena itu, Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab.
Allah berfirman:


Artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:56)
Dan Allah juga berfirman:

Artinya:
“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa’:36)
Maka Allah memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya semata, dan meninggalkan ibadah kepada selainNya.
Formulasi atau rumusan yang paling jelas, singkat, tetapi komprehensif artinya, adalah kalimat tauhid sendiri berbunyi la ilaha illallah. Kemudian, konsekuensinya bagi kita sebagai umat Muhammad itu adalah Muhammadar-Rasulullah. Jadi, kata-kata la ilaha illallah Muhammadar-Rasulullah kalimat tauhid yang didalam kehidupan seorang muslim diikrarkan dalam setiap duduk tasyahhud, bersyahadat. Kita bersyahadat dan berikrar dengan la ilaha illallah Muhammadar-Rasulullah. Kemudian, didalam adzan dan iqama dibacakan asyhadu la ilaha illallah Muhammadar-Rasulullah. Dan kalimat tauhid ini juga disebut kalimat tahlil (la ilaha illallah). Arti kata ;la ilaha illallah adalah meniadakan segala sembahan-sembahan baik ideologi, dewa-dewa dan dari segala bentuk kekuatan kecuali Allah.
Ada 3 macam tauhid, yaitu:
1. Tauhid Rububyiah
Yaitu meyakini bahwa hanya Allah lah yang menciptakan, yang memberi rizki, yang mengatur, memelihara, yang menghidupkan dan mematikan. Karena ini merupakan keimanan kepada Allah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki. Dan orang-orang musyrikin pada zaman Nabi Muhammad Shalallahualaihiwasallam juga mengakui Tauhid Rububiyah ini, mereka mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan memberi rizki. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:



Artinya:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. Az-Zukhruf:87)
Jadi orang kafir dulu juga meyakini Tauhid Rububiyah Allah, mereka yakin kalau yang menciptakan, yang mengatur, yang memberi rizki, yang mematikan dan menghidupkan adalah Allah subhanawata'ala, namun mereka masih mengingkari Tauhid Uluhiyah.

2. Tauhid Uluhiyah
Yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Kita wajib menyembah dan beribadah kepada Allah saja tidak boleh kepada yang lainnya. Ibadah bukan hanya sholat, puasa, zakat, haji tapi ibadah adalah segala perbuatan yang dicintai Allah subhanawata'ala, baik itu amalan yang tampak maupun yang tidak tampak, misalnya kamu membantu ibu beli sayur itu termasuk ibadah, karena perbuatan membantu orangtua dicintai oleh Allah. sebagian orang ada yang beribadah kepada selain Allah, misalnya berdo'a meminta bantuan kepada orang yang sudah mati, perbuatan ini disebut syirik. Bukan termasuk ibadah malah termasuk dosa yang tidak diampuni Allah Swt. Nabi Muhammad Saw berdakwah mengajak kaum Quraisy untuk beribadah kepada Allah saja, beliau melarang berdoa kepada orang yang sudah mati, walaupun orang itu dahulunya orang yang sholih, karena orang itu sudah mati dan tidak dapat memberi pertolongan dan bantuan. Orang kafir quraisy menolak ajakan nabi, bahkan mau membunuh nabi kalau tidak mau berhenti berdakwah. Namun beliau tetap istiqomah berdakwah sampai akhir hayatnya.
3. Tauhid Asma’ dan Sifat
Yaitu beriman kepada nama dan sifat Allah yang maha indah dan sempurna, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Allah mempunyai nama dan sifat yang sangat banyak, semuanya nama-nama dan sifat-sifat yang sangat indah dan sempurna, tak ada yang bisa menyerupainya apalagi mengunggulinya, misalnya Allah mempunyai nama Ar-Rahman yang artinya maha pengasih, Dia mengasihi seluruh makhluknya, tidak ada yang bisa menyamai kasih sayangnya apalagi lebih pengasih dari Dia. Dan juga Allah mempunyai tangan, namun tangan Allah sangat sempurna, tidak sama dengan tangan manusia. Para ulama menjelaskan bahwa ada 99 nama di dalam Al-Qura'an dan As-Sunnah, barangsiapa yang mempelajarinya, mengimani dan mengamalkan kandungan isinya maka dia pasti masuk surga.

Disetiap waktu seharusnya kita ingat bahwa Allah adalah Al-'Alim (maha mengetahui) maka kita akan takut kalau mau melakukan dosa, dan kita akan selalu senang jika kita berbuat baik, karena pasti allah tahu dan pasti Allah akan memberi pahala bagi kita. Ketika kita bicara seharusnya kita sadar kalau Allah adalah As-Sami' (maha mendengar) maka kita tak akan berani berkata jelek dan jorok. Di saat kita berdoa hendaknya kita mengangkat tangan, memuji dan mengagungkan Allah, dan menyebutkan nama dan sifat Allah yang sempurna agar doa kita dikabulkan oleh Allah, misalnya kita berdoa pada Allah: "Ya Allah, ya Robbul'alamin (yang menciptakan alam semesta), Ar-Rahman (Yang maha menyayangi), Ar-Rozzaq (yang maha memberi rizki) mudahkanlah semua urusanku, mudahkanlah aku mempelajari ilmu yang bermanfaat, mudahkanlah kami mencari rizki. Atau misalnya kamu terlanjur berbuat dosa ucapkan, "Ya Allah, Al-Ghofururrokhim (yang maha pengampun dan pengasih) ampunilah diriku yang telah melanggar laranganmu."

Bab III
Penutup

3.1. KESIMPULAN
Tuhan itu Maha Ada. Dia ada dari diri-Nya sendiri, Self Existent. Dia adalah Esa. Esa artinya tidak berbilang, tidak ternamakan, tidak terfikirkan, tidak pula terusahakan, tidak terkenali. Dia satu-satunya Dzat, satu-satunya yang mampu, yang lainnya bukan Dzat dan tidak berkemampuan. Maka dari itu, kita wajib mempercayai adanya Tuhan. Namun tak cukup dengan mempercayai adanya Tuhan saja, mentauhidkan Allah juga wajib dilakukan. Mentauhidkan Allah jauh lebih sukar dari sekadar mempercayai akan wujud Allah. Mentauhidkan Allah membutuhkan suatu perjuangan berat, dan kemampuan menghayati sikap bertauhid secara tetap (consistent) merupakan suatu prestasi yang paling mulia, karena itu pula pantas mendapat ganjaran yang paling tinggi. Mentauhidkan Allah pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia di dalam menjalani hidupnya di dunia.

3.2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran yang dapat diberikan oleh penulis ialah semakin yakinlah kita atas kebenaran ajaran agama Islam tanpa adanya keraguan lagi. Mari kita serahkan segala hidup ini hanya kepada-Nya, dengan menjadikan agama Islam sebagai satu-satunya sumber tuntunan dalam kehidupan kita. Tiada tempat yang layak untuk kita bergantung dan memohon pertolongan selain kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang berada dalam pelukan cinta kasih-Nya. Bagi kita yang selama ini telah hidup dalam kesesatan dan terkungkung dalam kehidupan religiusitas yang semu dan hipokrit sebagai dampak dari keragu-raguan kita atas hakikat keberadaan-Nya sebagai Sang Pencipta, masih ada waktu bagi kita untuk memperbaiki diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar